Aku seorang pembual..
Suatu hari dikegelapan malam teras asrama mahasiswa, aku duduk terdiam, melamun, menyia-nyiakan waktu untuk kesenangan pikiranku, “lama sudah aku disini, beberapa tahun lamanya” pikiranku melempar opsi, membuat hatiku meringis, mengingat aku tak pernah mempunyai tujuan yang pasti hingga sampai akhirnya aku terperangkap sendiri dalam perantauanku di bumi Antasari ini.
“Apa yang kucari??” Tanya ini tak lagi asing dipikiranku, selalu ada dan hinggap di tiap hariku berjalan melaluinya, tak ada dan tak bisa kujawab sedikit pun, aku malas menghiraukan pertanyaan itu, silahkan lewat saja lah. Namun ada rasa sakit hati didadaku ini, kemarin malam aku berkmpul dengan senior-seniorku dikampus, berkumpul di rumah dosen yang konon mempunyai pengaruh besar di kampus.
Aku diajak seniorku waktu itu untuk ikut berkumpul, malam itu kami berkumpul di ruang belakang tepatnya di dapur rumah pak dosen, entah ada sebab apa, tiba-tiba pak dosen itu berbicara bahwa semua teman angkatan saya akan diberi nilai jelek-jelek di mata kuliah beliau nantinya. Entah dari mana hubungannya dan apa yang di laporkan oleh para senior-seniorku sebelumnya kepada bapak dosen itu.
Renungan saya di asrama dan di iringi dengan sakit hati, menghasilkan sebuah ide yang memang sama sekali tak ada untungnya bagi saya “ suatu hari sebelum aku pulang dan meninggalkan tanah perantauan ini, aku harus membuat sesuatu yang bisa mengangkat prestise teman-temanku di mata dosen” ide ini sangat tak bermanfaat bagiku, namun aku ingin sekali-kali menghajar pemikiran dan tindakan dosen yang sok bertangan tuhan kepada para mahasiswanya, serta aku ingin memberikan sesuatu setidaknya ide kepada kawan-kawan dikampus agar kita bisa memiliki masa depan yang cerah.
Aku bukan orang pintar, aku bukan seorang professor, esok hari aku teriak-teriak dikampus, mendiskusikan sebuah ide untuk membuat suatu perkumpulan yang didalamnya ada kegiatan semacam diskusi mingguan tentang apa saja mengenai mahasiswa sejarah. Beberapa kawan ku coba ajak bicara mengenai ide ini, seperti biasa lomba pertama tak dapat juara, tak ada kawan yang bisa menerimanya, apa boleh buat, aku hanya seorang pembual..
Berminggu-minggu menahan ide tak berguna, aku tak semangat lagi, tiba-tiba pada bulan puasa tahun 2006, ketika kami se prodi mengadakan acara buka puasa bersama, ada seorang kawan yang ingin mendiskusikan ideku pada semua mahasiswa sejarah, akhirnya mereka setuju melakukannya, seminggu sekali. Ihhhh aku sedikit lega, perjalanan akan begitu panjang menanti hasil dari semua ini, tak ada yang hebat dari ide ku ini, diskusi diadakan, namun kawan-kawan tak mengerti esensi dari diskusi tersebut, yaaah sabar ae…
Semester demi semester kelompok diskusi ini berjalan dengan berbagai bentuk acara didalamnya, woow sangat tak istimewa,, tapi inilah hasil usaha. Ide yang tak cemerlang dapat dilaksanakan. Dari kelompok diskusi ini timbul kelompok-kelompok lain yang ingin berjalan sendiri.. yaa silahkan saja, semua orang punya kepala dan isi yang berbeda, yang penting aku bisa melihat kawan-kawanku berhasil menjadi apa yang mereka inginkan.
Aku memang seorang pembual,,dari diskusi yang sering dilakukan tak sedikit perkembangan terjadi,, ( jangan munafik heii para pengurus dan pembesar Sejarah ) hee, mereka sekarang sudah setengah jalan memiliki harapan dan masa depan yang sesuai dengan yang mereka inginkan. Aku puas..ideku yang hambar dapat menjadi suatu kenyataan yang tercapai, namun semua ini bukan karena ideku namun karena kawan-kawanku memiliki pemikiran yang sejalan denganku tapi mereka bukan pembual seperti aku.
Bravo kawan-kawan…tunjukkan lagi taring taring kalian, gigitlah dan koyaklah kecongkakkan yang melilit tubuh kalian di kampus tempat kita mencari ilmu..
HIDUP MAHASISWA YANG BERPIKIR DAN MENJADI DIRI SENDIRI BAGI DIRINYA SENDIRI, UNTUK SEMUA MANUSIA DAN BUKAN UNTUK DIRINYA SENDIRI…



Kita tidak usah mencari apa-apa tentang diri, sebab diri itu sudah ada dengan sendirinya. Paling penting berbuat sesuatu untuk menjadikan diri itu diri, dengan melakukan hal-hal bermanfaat. Mereka yang kehilangan jati diri justru mencarinya bukan membangun dirinya. Lebih celaka kalau terperangkap ‘diskusi’ tentang banyak hal di lura diri, lalu berasa paling hebat. Celaka am. Berbuat saja, dari hasilnya diri bisa ditakar.
yaaap heee…..makasih banyak pak.