Menatap Langit Bulan Ramadhan

Mataku masih setengah ngantuk, namun ku paksakan untuk bangun pagi ini, ku bergegas ke dapur dan menyalakan kompor, memasak mie untuk sahur kami berdua, ku bangunkan kakakku yang masih terlelap tidur.

“ Ban, bangun,, sahur sahur “ Ku coba membangunkan Kakakku, Baban.

Pagi itu kami berdua sahur seadanya, Ramadhan ini kali pertama ku jalani di tanah perantauan ini. Ku bereskan piring dan mencucinya sambil menunggu adzan subuh, seusai adzan berkumandang, ku bergegas mengambil wudhu dan shalat di kantor penyewaan porklif milik sepupu jauh kami, tempat kami numpang tinggal. Dalam keheningan pagi aku bersimpuh meminta ampun dan lindungan pada Ilahi Robbi.

“ Yaa Allah berikan jalan yang terbaik bagi kami selama diperantauan ini, berikan kami sekeluarga hikmah yang membuat kami selalu mengingatMu yaa Robbi “ doaku sehabis shalat.

 Empat bulan telah ku lalui sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di bumi seribu sungai ini, selama itu juga aku ikut bekerja bersama pamanku di pelabuhan Trisakti, menjadi seorang Tally, yang bekerja menghitung barang bongkar muat dari kapal-kapal barang.

 Jam menunjukkan pukul 06.00 kakakku yang sudah 4 tahun lebih dulu merantau sudah siap untuk bekerja, beliau bekerja di pabrik plywood yang membuatnya kurus dan capek menanggung pekerjaan selama 12 jam setiap harinya.

“ Ton, ku berangkat dulu, kunci pintu kalau kamu berangkat ke pelabuhan “ Pesannya yang selalu di ucapkan tiap dia pergi bekerja. Kadang ku ingin menangis jika mengingat cerita ibu tentang kakakku.

“ Baban itu adalah lilin ton, tubuhnya habis ia korbankan hanya untuk menerangi ruangan, demi orang-orang yang ia sayangi “ itu lah cerita ibu yang sambil menangis ketika beliau menceritakannya. Maklum, kakakku lah yang menghidupi dan menafkahi keluarga kami sendirian, setelah ayah pergi entah kemana, di tengah lamunanku, paman datang mengetuk pintu, ku persilahkan beliau masuk.

“ Ton, kapal Kamandalu sudah nyandar, kamu berangkatlah ke pelabuhan nanti jam 9an “ perintahnya menyuruhku bekerja.
“ siip mang,,,” jawabku mematuhi beliau.

 Pikiranku mengarah ke kamar mandi, cucian sudah setumpuk, aku bergegas mencuci pakaian kami berdua, lagi-lagi lamunanku membawa bayang ibu yang ku tinggalkan di rumah, Ramadhan ini memang agak terasa berat ku lalui karena jauh dari ibuku, baru 2 tahun aku tinggal bersamanya dan sekarang ku tinggalkan beliau disana, dulu ibu bekerja jadi TKW selama 4 tahun dan terpaksa meninggalkan kami demi menafkahi kami, sekarang ibu sudah renta dan kami tak pernah lagi mengijinkan beliau untuk kembali bekerja.

“ Pulpen sudah ku bawa, apalagi yang harus ku bawa ya?? “ aku coba mengingat apa-apa yang harus ku bawa untuk bekerja.
“ Oh iya, kertas karbon dan berkas tally “ akhirnya aku mengingatnya, maklum ku selalu lupa untuk membawanya karena kerjaan ini baru ku jalani.

 Pelabuhan tidak terlalu jauh dari tempatku tinggal, jadi ku jalan kaki saja, ku lewati jalan ke pelabuhan yang penuh dengan asap polusi dari truk-truk pengangkut barang dan asap dari pabrik pembakaran karet, suasana yang sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal ku di jawa barat yang sejuk dengan hijaunya pepohonan dan gagahnya gunung-gunung berdiri.

 Palka kapal sudah di buka, bau menyengat datang dari ruang palka tersebut, ternyata bau itu timbul dari pupuk yang sudah tersimpan di dalam palka selama berhari-hari, dan yang akan ku hitung hari ini adalah pupuk yang di kirim dari Bontang Kalimantan timur. Seperti biasa aku mendekati para Tally yang di utus dari gudang dan dari ABK kapal, aku sendiri sebagai tally dari pelabuhan yang tugasnya menyamakan perhitungan jumlah barang dan memastikan barang tidak hilang atau di curi.

“ Siap kah jang,, “ ABK dari kapal memastikan ku
“ Ooh siap aja bang,,” jawabku pasti.

 Satu persatu pupuk di pindahkan ke dalam truk pengangkut oleh derek, aku konsen menghitung karung pupuk yang dipindahkan, terik matahari membuatku lemas karena berpuasa, kapal yang terbuat dari besi baja mulai memanaskan kakiku, keringat pun mengucur deras dari kepala dan bahuku.

“ Yaa Allah kuatkan tubuhku untuk melewati puasa ini. “ aku memohon, agar puasaku tamat hari ini.
 
 Godaan tak sampai disitu, para buruh yang tak berpuasa dengan nikmatnya menenggak minuman di tengah terik matahari hari itu, dan membuatku menelan ludah, aku memaklumi para buruh karena mereka bekerja lebih berat dariku, mereka bekerja mengangkat barang-barang ke tali derek. Badan-badannya yang kekar membuat mereka kuat dan tak kenal letih bekerja demi menyambung hidup, aku terkesan dengan usaha mereka.

 Sampai pada waktu istirahat, para tally berkumpul untu meyamakan hitungan barang yang keluar dari palka kapal, alangkah kagetnya aku ketika hitungan kami berbeda, aku bingung kenapa jumlahnya jadi berbeda, ku coba untuk menghitung ulang dan tetap jumlahnya berbeda, perasaanku aku selalu konsen menghitung karung-karung itu dan tak satupun yang luput dari pernghitunganku.

“ waah, kenapa berbeda jang?? “ Tanya ABK sedikit kesal kepadaku.
“ gak tau bang, perasaanku tak ada yang terlewati tadi. ” jawabku beralasan.
“ aduuh, kerja itu yang bener dong, jangan banyak melamun!! “ bentak tally dari gudang.
“ nanti saya hitung lagi bang,,” jawabku memohon.
“ Ya sudah kamu istirahat aja dulu, nanti kita urus di dalam kapal,,” ABK kapal menyudahi.

 Aku bingung, aku dimarahi habis-habisan oleh para tally, masalah ini menguji kesabaranku dalam berpuasa, ku tarik nafas dalam-dalam sambil duduk di depan pintu gudang plywood, sambil mengingat-ingat kesalahanku ada dimana. Lalu teriakan buruh membuatku terkaget-kaget.

“ Ayo pukul, sikat terus, hajar aja, hajar,,,” teriakan para buruh begitu serentak mengundang orang-orang di pelabuhan untuk mendekat dan penasaran dengan apa yang terjadi.
 
 Setelah ku dekati mereka, ternyata mereka menyaksikan ABK kapal yang sedang berkelahi dengan kawannya sendiri, aku tak tega melihat ABK yang berkelahi tanpa ada yang melerai, malah jadi tontonan layaknya petinju yang bertarung di ring tinju, darah pun memuncrat dari hidung salah satu ABK tersebut kala mereka bergumul untuk menyelesaikan masalah mereka secara membabi buta, hatiku tambah meringis, tubuhku lunglai tak sanggup melihat perkelahian itu, aku kembali ke pintu gudang dengan tubuh lemas.

“ Apa yang mereka lakukan, apa yang sebenarnya mereka cari di pelabuhan ini..mengapa mereka begitu liar dan kasar..? “ Tanyaku dalam hati. Penjaga gudang menghampiriku dan menepuk bahuku.
“ Memang udah makanan sehari-hari di pelabuhan ini, ada saja masalah yang timbul, inilah kehidupan di pelabuhan, siapa yang kuat dialah yang bertahan, kamu jangan heran,,” terang penjaga gudang, yang membuatku mengernyitkan dahi.
 
 Aku sadar inilah lingkungan pelabuhan yang sebenarnya, Ramadhan ini telah memberikan penjelasan tentang dunia, ya,,dunia dan kehidupan manusia dalam berbagai lingkungan hidupnya yang selalu sesak dengan tujuan hidup dan alasan untuk bertahan hidup, yang memang harus aku dan manusia lainnya untuk senantiasa menjalaninya meskipun dengan terpaksa.. siang itu di bawah terik matahari, aku berdiri menatap langit bulan Ramadhan…

Diterbitkan di:  on September 15, 2008 at 5:38 am Komentar (1)

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://tonifebruari666.wordpress.com/2008/09/15/menatap-langit-bulan-ramadhan/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Satu komentar Leave a comment.

  1. eh akang, kumaha atuh..


Leave a Comment