Jam menunjukkan pukul 05.30 saya bergegas menyusul rombongan yang sudah berangkat terlebih dahulu, tak sabar rasanya ingin menyusuri sungai-sungai yang mengalir di daerah Banjarmasin ini, semua rombongan sudah berkumpul di jalan Pangeran, menunggu kelotok ( perahu ) yang akan menjemput, sepagi ini kami berangkat karena ingin menyaksikan ramainya Pasar Terapung yang katanya berlangsung mulai dari subuh, perjalanan di mulai dengan menyusuri Sungai Barito, sungai terbesar dan menjadi induk dari semua sungai yang mengelilingi wilayah Banjarmasin dan sekitarnya, sepanjang sungai Barito ini, banyak kapal-kapal besar yang mengangkut barang-barang, maklum sungai Barito ini adalah jalur transportasi air yang utama, pengiriman barang atau minyak yang dipasok dari luar Kalimantan melewati sungai ini, lampu kapal masih menyala seperti kunang-kunang dari kejauhan.
Dari jauh tampak kumpulan perahu-perahu kecil yang di awakki satu orang saja, isi dari perahu kecil tersebut bermacam-macam, mulai dari makanan kecil, sayuran , sampai dengan buah-buahan segar, itulah Pasar Terapung, pasar yang transaksi penjualan dilakukan di atas air, konon pasar terapung ini Cuma ada 2 saja didunia, di Kalimantan dan diThailand. Setibanya kami di pasar itu tak henti-hentinya saya memandangi para penjual yang sedang bertransaksi, ternyata bukan kami saja yang sengaja berkunjung kesana, ada banyak turis asing yang datang menikmati suasana keunikkan dari pasar ini, laju kelotok yang kami tumpangi semakin perlahan, tak disadari, kelotok kecil yang ditumpangi seorang ibu-ibu tua menghampiri kami dengan menawarkan limau-limau ( jeruk ) yang segar, maka transaksipun dimulai, dengan lihai si ibu mengendalikan perahu kecilnya yang terombang-ambing ombak sungai sementara tangannya sibuk menghitung jeruk yang akan kami beli, sungguh pemandangan yang mengesankan, setelah penjual jeruk pergi maka kami panggil si penjual makanan-makanan kecil khas banjar, rasanya perut kami sudah pantas untuk di isi makanan ringan yang akan mengganjal perut kami pagi ini, alangkah kagetnya saya ternyata si penjual hanya menyodorkan tongkat yang ujungnya besi gancu, kami di sodorkan alat itu untuk mengambil makanan apa saja yang akan di beli, transaksi yang mengasyikan.
Perjalanan kami belum selesai di situ saja, sungai yang akan kami telusuri berikutnya adalah Sungai Martapura, setelah melewati pasar terapung laju kelotok dipercepat memasuki salah satu anak cabang Sungai barito ini, sepanjang alur Sungai ini banyak rumah-rumah penduduk yang dibangun di pinggir-pinggir sungai, rumah tersebut di buat menjadi 2 muka rumah, yang satu menghadap ke sungai dan yang satunya lagi di buat menghadap ke jalan darat, dan uniknya lagi banyak dari rumah penduduk, yang dijadikan warung namun menghadap kesungai, bahkan ada yang membuka bengkel, ternyata sungai yang cukup lebar ini banyak dipakai penduduk sebagai sarana trnasportasi harian sehingga ramai di lalui perahu-perahu kecil, kebutuhan pokok penduduk setempat dapat dengan mudah didapatkan lewat sungai ini. Sungai Martapura cukup panjang dan memiliki beberapa anak sungai lagi, ketika kami sampai pada pertigaan sungai kami memilih jalur sebelah kanan, disini penduduk lebih banyak yang memakai sungai sebagai sarana MCK ( masak, Cuci, Kakus ), selama melewati sungai ini kami lebih sering melihat penduduk yang mandi dan mencuci, sehingga kami jadi segan untuk memandangi mereka, namun inilah Budaya sungai yang memanfaatkan sungai sebagai sumber kehidupan dan penuh dengan keunikan masyarakat local.
Budaya sungai menurut para peneliti sudah mulai luntur karena kondisi jaman dan makin berkembangnya kebutuhan masyarakat, karenanya banyak penduduk yang tak lagi merawat sungai sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga secara ketat, sampah bertebaran dan mengotori sungai, penumpukkan sampah pun menimbulkan pendangkalan sungai, banyak anak sungai yang mati di Banjarmasin ini karena pendangkalan sehingga sarana transportasi di alihkan ke jalur darat yang sekarang banyak di bangun oleh pemerintah, padahal jalur sungai tersebut dulu menjadi jalur yang mudah untuk dilalui oleh masyarakat, selain itu, pendangkalan mengakibatkan banjir dan air sungai meluap ketika musim penghujan datang, sungguh sangat di sayangkan.
Saya tidak dapat melihat perkembangan budaya sungai ini secara detail dari zaman ke zaman namun sebagai masyarakat yang tinggal di daerah yang memiliki banyak alur sungai ini saya menyaksikan banyak penduduk yang tak lagi memahami sungai sebagai alam yang dapat mendukung kehidupan mereka, sungai malah dijadikan sebagai pelengkap dari kehidupan yang yang berarti apa-apa, jika ditelusuri dari perkembangan sejarah, Sungai-sungai yang ada di Banjarmasin ini adalah pembuka jalur proses pembangunan negeri seribu sungai ini, kedatangan orang-orang melayu dan pendatang lainnya seperti dari jawa dan pendatang Arab serta Cina yang bertransaksi rempah dan kebutuhan lainnya tidak lepas dari perantara sungai yang ada di daerah ini, karena sungai inilah proses pencampuran budaya bisa terjadi dan menjadikan budaya Banjar yang Unik. Dari sungai inilah orang-orang banjar dapat melanglang buana ke negeri-negeri yang ada di nusantara ini, selain sebagai pelaut orang-orang banjar bisa di kenal sebagai pedagang yang ulung oleh orang-orang di luar pulau Kalimantan, karena perantara sebuah Sungaiā¦
Dalam artian perkembangan Budaya, tak ada satupun budaya yang hilang dimuka bumi ini, termasuk budaya sungai, seiring dengan perkembangan zaman yang mengkondisikan dengan kebutuhan masyarakatnya budaya berangsur-angsur berubah dan berkembang mengikuti arahan dari masyarakatnya, maka dari itu pengetahuan akan pentingnya sungai bagi kehidupan harus di bangun dan diterapkan oleh masyarakat setempat, sehingga perkembangan budaya sungai mengalami perubahan kearah yang positif dan berguna bagi penghuni disampingnya. Meskipun masalah yang mengiringi budaya sungai ini sangat kompleks, sebaiknya arahan dan sosialisasi pentingnya sungai bagi kehidupan masyarakat perlu diadakan secara kontinyu oleh para pemerhati kehidupan budaya sungai khususnya pemda setempat terhadap masyarakat yang menjadi pusat dari perkembangan budaya. Sehingga di waktu mendatang tak ada terjadi lagi degradasi Budaya Sungai.



saya undang anda untuk bergabung bersama komunitas blogger kalsel ‘kayuhbaimbai’ (http://kayuhbaimbai.org) atau hubungi saya di 085251534313/7718393 mari kita dukung pelaksanaa ARUH BLOGGER 2009
Salam Blogger
chandra
yups, gimana daftarnya mas,,,,ada kawan ku jg yang ikut namanya M RIZKI ADHA…..